happy sunday

happy sunday

Sabtu, 06 November 2010

Aku yang Salah

7 Februari 2010 18.583 views 11 Comments
cerpen-cinta-remajaDia memang orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup, tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya dia mau menceritakan masalahnya kepadaku, dan meminta aku merahasiakan hal itu.
“Kamu malu ya?” tanyaku waktu itu.
“Tidak. Aku tidak malu, aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus, aku ingin biasa saja.” Jawabnya dengan wajah tak bergeming. “Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya.”
“Iya, tenang aja aku pasti menyimpan rahasia ini.” Aku mencoba untuk mengerti dia.
“Terima kasih, Wit,” katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?”
“Aku tidak semangat ke sekolah.”
“Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah.”
“Entahlah.” Dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.
***
Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas XII, waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor, yaitu Ruli. Apa anak itu masih natalan? Pikirku. Padahal aku sudah memberi tahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak juga datang.
“Le, Ruli ke mana sih?” Tanyaku kepada Sule setelah selesai pembagian rapor.
“Nggak tau, sejak dua hari kebelakangan ‘ni HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa aja sama dia.”
“Maksud kamu?”
“Iyalah, kemaren katanya dia sakit, jadi takut aja ada apa-apa.”
Aku tidak menjawab lagi, pikiranku hanyut entah ke mana. Ada apa lagi dengan Ruli? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk ke benak ku. Sayangnya, satu pun tidak terjawab. Pikiranku berkecamuk.
Libur semester ganjil telah usai. Semua siswa kembali ke sekolah. Ada dengan wajah gembira, ada juga dengan wajah kusut, mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. Sedangkan aku sangat senang kembali ke sekolah apalagi hari senin ini kami akan diberi sarapan pagi yang enak, sarapan Fisika. Mata pelajaran yang sangat aku sukai di kelas XII, dan aku ingin sekali bertemu dengan Ruli, ingin tahu keadaannya. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya.
Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ruli di dalam kelas. Mataku liar memandang seluruh penjuru sekolah, tidak juga kutemukan. Dia memang tak datang lagi. Sudah dua minggu berlalu, Ruli belum juga tampak.
“Le, tahu nggak di mana Ruli? Sudah dua minggu belum masuk juga. Biasanyakan kamu selalu sms-an ma dia.”
“Tidak. Udah lama aku tidak menghubungi dia. Kamu ke-napa sih, Wit, nanya Ruli mulu?”
“Nggak apa-apa sih, aku ‘kan sekretaris, jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir.” Ja-wabku sekenanya.
Ada keraguan di wajah Sule. Aku tak peduli. Jam pelajaran ke empat telah berlangsung selama satu jam pelajaran, Kepsek masuk ke kelas kami. Semua diam. Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa, tapi tidak untukku. Aku hanya segan kepadanya.
“Ruli sudah masuk?” tanyanya tegas.
“Belum, Buk!” Jawab kami serentak.
“Ke mana dia?”
Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan. Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban.
“Tidak tahu, Buk, karena dia tidak tinggal di rumahnya.” Ja-wabku.
“Orang tuanya?”
“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi.”
“Pendidikan itu penting untuk masa depan, jadi jangan menyia-nyiakan pendidikan selama ada kesempatan.” Nasehatnya kepada kami. Dia pun berlalu. Ica dan Rozal memandangku dengan tatapan tajam.
“Kenapa?” Tanyaku heran.
“Mengapa kamu membuka rahasia Ruli?” Tanya Rozal. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkannya.” Sambungnya.
Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka,baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi, “berpisah.”
“Ya Tuhan, aku lupa. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja.” Kataku menyesal. Selain aku, Ica dan Rozal juga tahu masalah Ruli.
“Kenapa kamu minta maaf kepada kami, minta maaflah kepada Ruli.” Kata Rozal.
Mulai saat itu hatiku sungguh resah, rasa bersalah terus menghantui. Mau minta maaf, aku tidak tahu Ruli ada di mana sekarang. Aku takut dia membenci aku. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenci aku, seperti Yuda dan Resa. Sudah banyak kali aku SMS Ruli tapi tidak ada balasan. Perasaan bersalah ini benar-benar mendera.
***
Langkahnya gontai, menunduk, terkeseng-keseng. Sudah dua minggu dia tidak muncul, baru sekarang menampakkan hidungnya. Mungkin anginnya mulai membaik. Dia langsung menuju tempat duduknya di ujung sudut kelas. Masih menunduk. Entah apa dalam pikirannya, semua tidak tahu. Memang orang lain tak peduli dengannya, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya aku dan Sule yang selalu bertanya keadaannya. Sebenarnya dari pertama aku melihat Ruli di rumah temanku, aku sudah mulai ingin tahu tentangnya. Apa yang menarik tentangnya aku tak tahu, yang aku tahu dia tengah sendiri. Dan aku telah menghancurkan kepercayaan yang diberikannya.
Tiga hari telah berlalu perasaan takutku masih mencengkam, terus mengalahkan keberanianku untuk berbicara langsung dengan Ruli. Menjelaskan semua tapi untuk bertemu dengannya saja aku takut, takut sekali. Apalagi sejak dia masuk ke sekolah tidak pernah sekalipun dia menegur bahkan melihatku. Sampai guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.
“Hari ini Bapak ingin kalian semua untuk menulis pengalaman masing-masing.” Pak Santoso membuka pertemuan kali ini. “Tapi Bapak mau satu orang ke depan untuk menceritakan pengalamannya.”
Hening. Semua bungkam. Tidak ada yang bersuara. Kelas yang aku duduki sekarang memang seperti itu, bila disuruh bicara dia diam tapi bila disuruh diam dia bicara. Sungguh memuakkan. Aku mengangkat tangan.
“Baiklah, Wita maju ke depan.” Aku melangkah ke depan kelas. Ada rasa gentar juga ditatapi oleh tiga puluh pasang mata.
“Ayahku meninggal dunia ketika aku masiah terlalu kecil,” kataku mengawali cerita. Tidak ada yang bersuara. Ruli tidak melihat ke arahku, dia masih menunduk.
“Ibu yang telah membesarkan kami anak-anaknya. Ketika aku di SD aku tidak pernah merasakan yanng namanya seragam baru. Semua bekas. Aku tidak pernah mengeluh, yang penting aku bisa sekolah. Di SMP aku membiayai sekolahkku sendiri dengan bantuan beasiswa untuk siswa yang berprestasi. Begitu juga di SMA. Aku selalu ditinggal sendiri di rumah, ibu dan kakak sering pergi. Ibu selalu berkata bahwa aku memang dibiarkan belajar hidup mandiri. Walaupun aku tidak makan, tapi aku harus sekolah. Itulah yang selama ini aku pertahankan. Masalah? Memang harus dimiliki oleh setiap insan agar bisa mengembang pola pikir kita. Kalau masalah keluarga, aku rasa keluargaku yang paling parah, kecoh. Setiap hari pasti ada pertengkaran, adu mulut, menangis. Sepertinya bagi mereka tiada hari tanpa bertengkar. Kadang aku berpikir untuk pergi dari rumah dan kota ini. Tapi ketika aku berpikir ulang, kalau aku pergi maka sekolahku akan terbengkalai, dan perjalananku sejauh ini akan sia-sia. Makanya aku masih bertahan sampai detik ini.”
Aku menutup cerita. Aku kembali ke bangku. Sebenarnya aku ingin Ruli sadar bahwa hidup ini memang susah, tapi harus dihadapi dan dijalani, karena di setiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. Bagi aku, kenyataan itu pengajaran. Belajar menghadapi kenyataan berarti belajar menikmati kehidupan. Kalau bagi orang lain hanya dua kata yang ingin aku ucapkan, “pata nehi.”***

BAGAIMANA RASANYA KALO KITA SUKA SAMA TEMEN PACAR ? OOOOOH NO ! argh

STOP !
hentikan rasa itu sebelum terjadi secara real .

Kamis, 04 November 2010

Aliens in the Attic: Makhluk Asing di Atas Loteng

9 Agustus 2009 811 views No Comment
Film The Aliens in the Attic
Film The Aliens in the Attic
AWALNYA, Stuart Pearson (Kevin Nealon) dan istrinya, Nina (Gillian Vigman) hanya ingin menghabiskan liburan bersama anak-anak mereka di rumah peristirahatan. Celakanya ada hal yang tak diduga Stuart dan Nina. Rumah peristirahatan mereka telah dihuni sekelompok makhluk dari planet lain.
Empat alien bernama Skip, Assassin, Razor, dan Sparks yang datang lebih dulu mendiami lantai paling atas dari rumah peristirahatan keluarga Pearson di Maine. Tak ada yang tahu bahwa ada ‘pendatang’ dari planet lain sampai Tom Pearson (Carter Jenkins), Jake (Austin Butler) dan anak-anak lain menemukan kawanan alien ini.
Walaupun salah satu dari alien itu menunjukkan persahabatan, namun yang lain punya rencana jahat yang mengancam keselamatan keluarga Pearson. Untungnya, Tom dan Jake menyadari bahwa senjata milik para alien ini tak berpengaruh pada anak kecil dan kini tugas para anak-anak ini untuk menyelamatkan orang tua mereka dan seluruh penghuni bumi dari ancaman maut para ”tamu” dari dunia lain ini.
Generik. Itulah kesan pertama yang tertangkap dari cerita film ini. Bagaimana tidak, tak ada satu pun bagian dari cerita film ini yang bisa dibilang baru. Kisah yang ditawarkan sutradara John Schultz dari naskah karya Mark Burton dan Adam F Goldberg ini bisa dibilang sama persis dengan cerita-cerita lain tentang kedatangan makhluk dari planet lain yang bermaksud menguasai bumi.
Tanpa usaha membuat ide lama itu jadi sesuatu yang fresh, target memasarkan film ini sebagai film keluarga jelas susah untuk dipenuhi. Untuk anak-anak mungkin kisah yang ditawarkan tak akan jadi masalah namun buat mereka yang tumbuh dengan kisah-kisah serupa, jelas film ini jadi sangat membosankan.
Parahnya lagi, naskah pun dibuat sangat sederhana sehingga tak ada kemungkinan buat para aktor dan aktris untuk menggali lebih jauh karakter yang mereka mainkan. Kalaupun akting para pendukungnya jadi terkesan biasa-biasa saja bisa jadi itu bukan sepenuhnya salah mereka juga. Namun terlepas dari itu, para pendukung film ini masih mampu tampil cukup meyakinkan.
Jadi, satu-satunya yang tertinggal adalah specialspecial effect dan celakanya bagian ini pun tak mampu membuat film ini jadi sesuatu yang enak ditonton. Tak mengherankan jika 20th Century Fox, sebagai distributor film ini, memutuskan untuk tidak membuat screening untuk film ini. Jelas mereka takut para kritikus akan membantai habis film ini dan pupuslah sudah peluang mereka untuk mengembalikan modal awal.(int/ekk)

Land of the Lost, Terjebak di Dimensi Lain

23 Agustus 2009 993 views No Comment
Salah satu scene dalam Film Land of the Lost
Salah satu scene dalam Film Land of the Lost
RICK Marshall (Will Ferrell) adalah seorang ahli purbakala yang berdedikasi tinggi. Namun karena teorinya yang dianggap tak masuk akal, Rick terpaksa harus turun pangkat dari seorang ilmuwan menjadi pengajar ilmu pengetahuan buat anak-anak. Suatu ketika Rick berhasil membuktikan bahwa teori perpindahan waktu yang ia kemukakan memang benar, sayangnya tak ada yang bisa mengkonfirmasi karena ia berpindah waktu tanpa ada saksi dan celakanya untuk kembali sepertinya bukan pekerjaan yang mudah.
Pertemuannya dengan Holly Cantrell (Anna Friel) membuat Rick yang berusaha melupakan teori perpindahan waktu mulai kembali bergairah. Ia pun memperbaiki tachyon amplifier yang semula ia buat untuk membuktikan bahwa manusia bisa berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Rick dan Holly kemudian mencobanya saat mereka berada di Devils Cave bersama seorang tour guide bernama Will Stanton (Danny R McBride). Saat mencobanya, terjadi gempa bumi yang membawa mereka bertiga berpindah waktu, tanpa tachyon amplifier.
Terpaksa mereka bertiga harus mengalami petualangan menegangkan di dunia yang serba liar yang masih dikuasai oleh binatang purbakala itu. Tanpa senjata dan peralatan, Rick hanya bisa mengandalkan apa yang ia tahu tentang binatang purbakala itu dan menjadikannya senjata untuk bisa bertahan hidup.
Masalahnya, untuk bisa kembali ke dunia mereka, hanya ada satu jalan yang harus mereka lalui, portal antar dimensi dan untuk mencari portal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Jelas tidak jika mereka juga harus berusaha meloloskan diri dari kejaran makhluk purba yang tak bersahabat itu.
Menilai film Land of the Lost ini bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Pertama ide masuk ke dunia lain bersama dinosaurus sepertinya sudah basi. Jurassic Park sempat menggegerkan dunia saat membawa ide yang lumayan segar saat itu. Tapi mengulangnya lagi di saat ini sepertinya sudah tak masuk akal. Disebut ikut-ikutan tren sepertinya juga kurang tepat karena tren remake film 1960-an atau 1970-an sudah lewat beberapa tahun lalu. Lalu apa tujuannya?
Jika sang sutradara bermaksud membuat sarana untuk bernostalgia, rasanya juga kurang tepat karena penjabaran ide dasar menjadi sebuah alur cerita pun kurang logis. Tiga puluh tahun lalu ide fiksi itu mungkin masih menarik dinikmati orang dewasa, tapi untuk saat ini sepertinya cerita film ini hanya akan menarik buat anak kecil.
Kalau target market-nya anak kecil atau remaja belasan tahun, film ini juga punya beberapa kelemahan. Special effect yang digunakan tak cukup realistis untuk bisa dinikmati generasi muda jaman sekarang. Mereka sudah dijejali banyak film dengan CGI yang benar-benar memukau seperti Transformers misalnya.(int/ekk)

Film The Grudge 3, Mengakhiri Dendam Kesumat Kayako

13 September 2009 1.438 views One Comment
Cover Film The Grudge 3
Cover Film The Grudge 3
Jake Kimble, (Matthew Knight), satu-satunya saksi dari peristiwa pembantaian misterius di Chicago akhirnya harus mengalami nasib yang sama dengan para korban lain. Arwah penasaran Kayako Saeki (Aiko Horiuchi) satu korban pun selamat. Kini, hanya Naoko Ka-wamata (Emi Ikehata) yang bisa menghentikan teror Kayako yang telah menelan banyak korban.
Naoko kemudian memutuskan untuk berangkat ke Chicago untuk mengakhiri teror Kayako yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri. Perjuangan Naoko ternyata tak semudah yang semula ia kira. Arwah Toshio (Shimba Tsuchiya), keponakan Naoko ternyata juga ada di sana dan siap merenggut nyawa orang yang ada di sekitarnya.
Kini apartemen yang dulu dihuni Jake dihantui arwah penasaran Kayako dan Toshio. Satu per satu korban berjatuhan sementara polisi tak bisa berbuat banyak. Naoko pun lantas mempersiapkan ritual yang konon bisa mengusir arwah Kayako dan Toshio. Tapi untuk menuntaskan ritual ini, harus ada yang bersedia meminum darah Kayako dan untuk mencari orang itu bukanlah pekerjaan mudah.
Munculnya bagian pertama dari serial The Grudge mungkin masih bisa dimengerti karena saat itu Hollywood memang lagi demam men-daur ulang film Asia. Tapi untuk membuatnya sampai menjadi tiga bagian barangkali sudah mulai terasa tak masuk akal. Bukannya apa tapi tak ada lagi yang bisa ditawarkan dari film ini. The Grudge 2 saja sudah terasa menjenuhkan apalagi dengan munculnya bagian ketiga ini.
Seperti bisa diduga, bagian ketiga ini juga masih tentang seputar balas dendam arwah penasaran yang kini sudah pindah dari Jepang ke Amerika. Trik ‘menakut-nakuti’ dengan cara Asia seperti pada bagian pertama dan kedua sepertinya sudah mulai tidak efektif lagi. Yang lebih parah lagi, ide ceritanya pun seolah dipaksakan hanya agar bisa dibuatkan kelanjutan dan melihat ending film ini, sepertinya masih akan ada lagi The Grudge 4.
Barangkali kelemahan utama film ini adalah ceritanya yang kehilangan fokus. Umumnya, film selalu mengikuti alur kisah satu atau dua orang pemeran utamanya (kecuali dalam kasus istimewa seperti Crash misalnya). Pada The Grudge 3 ini terlihat bahwa penonton tidak diarahkan untuk mengikuti alur tokoh tertentu. Alur seperti melompat-lompat dari satu tokoh ke tokoh yang lain, atau mungkin sang sutradara memang lebih mementingkan karakter arwah penasaran dan bukannya to-koh manusia yang jadi korbannya.
Tapi kalau sang arwah penasaran adalah tokoh sentralnya maka judul The Grudge rasanya jadi kurang tepat karena dalam kamus kata grudge berarti dendam kesumat yang artinya itu hanya bisa terjadi pada orang-orang yang pernah berinteraksi sebelumnya. Pada kenyataannya, sang arwah penasaran ini sudah mulai membunuh orang tanpa alasan yang jelas. Yang pasti bukan karena dendam karena mereka belum pernah berinteraksi se-belumnya.(int/nhk)

Perjuangan Mencari Cinta

14 Oktober 2009 803 views No Comment
Film Abu Abu dan Sepatu Kets
Film Abu Abu dan Sepatu Kets
TIGA sahabat, Flory, Kemala, dan Icha. Usia mereka 14 tahunan, duduk di kelas 1 SMA. Tidak pernah ada rahasia di antara mereka. Mereka menjalin persahabatan dengan Dea, teman satu sekolah yang nekad berusaha bunuh diri. Dea depresi karena cowoknya Adit telah merekam dan menyebarkan adegan mesra mereka ke teman-teman sekolah Dea melalui internet dan telepon genggam.
Persoalan keluarga Flory adalah yang paling rumit dalam hidupnya, apalagi saat orang tuanya bercerai karena ibunya ternyata seorang lesbian.
Kemala, selalu ingin tahu hal-hal yang berbau dewasa, di antara teman-temannya, dia adalah yang pertama menstruasi dan pacaran. Semua yang dia alami selalu diceritakan pada teman-temannya. Berbeda dengan Icha yang merasa belum sempurna karena belum menstruasi.
Persoalan hidup dan mencari cinta mengajarkan mereka banyak hal. Satu persatu masalah mereka selesaikan dengan cara mereka. Dan, mereka sangat  menjaga yang namanya harga diri. Mereka tidak mau terjerumus pada hal yang negatif walaupun masalah yang mereka hadapi tidaklah mudah.(g/uli)

Film Halloween II

8 Nopember 2009 1.144 views No Comment
Dendam Kesumat Michael Myers
Scene Film Halloween II (2)
Scene Film Halloween II (2)
Mimpi buruk kota Haddonfield ternyata tak berhenti saat munculnya Michael Myers (Tyler Mane) dan menghabisi banyak nyawa yang ia anggap bertanggung jawab pada apa yang ia alami saat itu. Beberapa tahun kemudian pembantaian di malam Halloween itu kembali harus berulang karena Michael masih punya urusan yang belum terselesaikan.
Michael Myers memang tumbuh dalam keluarga yang berantakan. Sejak kecil ia sudah menunjukkan gejala kelainan jiwa. Michael punya hobi menyiksa dan membunuh binatang. Suatu hari di malam Halloween, Michael menghabisi nyawa kakak dan ayah tirinya dan karena itu ia harus menghabiskan hampir seumur hidupnya di rumah sakit jiwa dalam pengawasan dokter Sam Loomis (Malcolm McDowell).
Suatu ketika Michael berhasil lolos dari rumah sakit dan ‘pulang’ ke Haddonfield untuk menebar teror pembantaian di sana. Ketika semuanya berakhir, semua orang mengira bahwa Michael Myers telah tewas. Tak ada yang tahu bahwa Michael masih menyimpan dendam lama dan bermaksud menuntaskan masalah di malam yang paling ia sukai, malam Halloween.
Sepertinya Rob Zombie tak berusaha menutup-nutupi bahwa ia sedikit terobsesi dengan karakter Michael Myers yang ada dalam franchise Halloween. Kalau dalam proyek pertama Rob belum terlalu berani bereksperimen, kali ini Rob sudah mulai menunjukkan sisi ‘kreatif’. Ada beberapa hal yang bisa dibilang menyimpang dari pakem Halloween yang digagas John Carpenter di tahun 1978.
Rob mulai memasukkan latar belakang psikologis Michael Myers yang tidak terlalu diperhatikan oleh John Carpenter. Michael Myers yang semula digambarkan sebagai sosok yang murni kejam dan jahat kini diolah lagi oleh Rob Zombbie, sang sutradara, dan terkesan bahwa masa lalu dan lingkunganlah yang membentuknya menjadi begitu. Rob juga memasukkan unsur sureal dalam bentuk penglihatan yang dialami Michael hampir sepanjang film.
Secara visual pun karakter ini mengalami transformasi. Topeng tak lagi jadi trademark dan hampir setengah jalan cerita tokoh utama ini tak mengenakan topeng lagi. Saat membunuh pun Michael mengeluarkan suara dan tidak lagi jadi pembunuh yang ‘pendiam’ seperti pada versi awal. Penafsiran yang berbeda ini mau tak mau sedikit berdampak pada mereka yang sudah kenal Mic-hael Myers sejak dulu.
Selebihnya, film yang sempat diberi title H2 ini masih tidak jauh dari karya Rob Zombie House of 1000 Corpses dan The Devil’s Rejects. Kalau Anda suka darah, mayat dan adegan pembunuhan, Anda pasti sudah kenal Rob Zombie.(int/nhk)